Pejabat AntiKorupsi Harus Siap Mati

Jadi pejabat antikorupsi bukan hal yang sulit. Yang penulis maksud "bukan hal yang sulit"  adalah hanya menjalani tugas (amanah) seperti yang sudah dijabarkan dalam sumpah jabatan. Tidak perlu sekolah sampai S1, S2, S3, S teler (baca: es teler). Anak SD pun tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Dalam agama masing-masing juga sudah diajarkan apa yang boleh dan tidak boleh. Mana yang halal dan mana yang haram. Mana yang harus dijalankan dan mana yang harus dijauhi. Tidak sulit 'kan?

Tidak perlu sumpah pocong, sumpah kuntilanak, sumpah suster ngesot, dan lain-lain. Sumpah jabatan dengan kitab suci masing-masing saja tetap dilanggar meski sebagai orang beragama (kecuali pura-pura beragama, dengan menjalankan ibadah yang diajarkan tapi tetap melakukan hal yang dilarang agama), sang pejabat tahu kalau ia melanggar sumpah jabatan dan melanggar ajaran agama, neraka menanti. 

Di sana, tak ada hakim yang bisa diajak damai dengan apel washington, apalagi sekedar apel malang, mobil mewah, atau wanita cantik sekali pun. Jadi kalau pejabat korupsi, bukan berarti tidak tahu itu salah, tapi tak mau tahu.

Jadi pejabat antikorupsi terlihat mudah karena hanya menjalankan hal sewajarnya (semua sudah ada aturannya). Sudah jelas mana yang boleh dan mana yang tidak. Tinggal jalankan saja.

Sudah jelas harus mengutamakan kesejahteraan rakyat yang dilayani, bukan untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga, juga bukan untuk kepentingan pihak tertentu yang menguntungkan dirinya (partainya atau pengusaha yang memberi uang suap).

Terlihat mudah, tapi sebenarnya tak semudah itu. Jalankannya mudah, tapi banyak pihak yang sengaja menghalangi dengan berbagai cara. Kasih uang suap dan aneka fasilitas adalah hal biasa. Membeli media untuk menuliskan hal buruk juga biasa. Bayar orang untuk berdemo juga biasa. Dengan uang, opini publik seperti lewat hasil polling pun bisa diatur. Ahli yang siap membuat nilai minus untuk pejabat bersih juga ada. Sampai yang terparah, jika semua tak mempan, membunuh pejabat bersih yang menghalangi korupsi. 

Nah jika jadi pejabat antikorupsi, Anda (termasuk keluarga) harus siap mati (maksudnya mati terbunuh saat menjalankan tugas mulia Anda). 

Sebagai orang yang merindukan negeri tercinta ini bebas dari korupsi, meski kata Ahok "Mati adalah  keuntungan" (mati terbunuh saat memperjuangkan kepentingan rakyat), penulis berharap kelak bisa melihat Ahok (juga Nur Pamudji dan orang-orang lain yang juga antikorupsi diberi umur panjang dan bisa melihat anaknya besar, bekerja, menikah, dan menimang cucunya di hari tua.

Silakan saksikan video wawancara Najwa Shihab dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (wagub DKI Jakarta) dan Nur Pamudji (Dirut PLN) di acara Mata Najwa, MetroTV.






Jika Anda ingin menikmati perbincangan ini (dalam bentuk suara saja, file MP3), silakan dunduh di tautan berikut ini: 

  1. www.tiny.cc/ahok1
  2. www.tiny.cc/NurPamudji-1
  3. www.tiny.cc/NurPamudji-2-habis

Bonus: 

Komentar Kompasianer tentang pejabat yang korupsi:
(untuk memperbesar, silakan klik pada gambar)

 Sumber: http://politik.kompasiana.com/2013/10/29/inilah-para-pendukung-ahok-603459.html


Baca juga: Ahok Berani "Telanjang" di Mata Najwa
0 Responses

Posting Komentar

abcs